Minggu, 04 November 2012

kelaparan dan tempramental

Bukan lagi  berita yang hangat lagi jika pemenuhan akan pangan di Indonesia belum terpenuhi. Walaupun pemerintah mengklaim bahwa di Indonesia sudah tidak ada lagi kelaparan, nyatanya tidak hanya didaerah terpencil (NTT, NTB) bahkan di kota kota besar seperti (Jakarta dan Surabaya) pemenuhan akan pangan ini menjadi masalah yang tak kunjung terselesaikan. Tak jarang seseorang rela berdesak desakan bahkan hingga berkelahi hanya untuk mendapatkan makanan. Sungguh fenomena yang mencengangkan di bumi penghasil beras ini.
Kondisi masyarakat Indonesia yang cenderung temperamental sisebabkan karena rakyat kekurangan asupan gizi (bahkan kekurangan makan) sehingga mereka kurang maksimal dalam berfikir. Kita tahu bahwa otak membutuhkan makanan berenergi. Organ dengan berat sekitar dua persen dari total bobot tubuh ini mengonsumsi setidaknya 20 persen kebutuhan kalori tubuh.
Makanan mengandung glukosa tinggi seperti karbohidrat cukup memberi energi pada otak. Glukosa dibutuhkan terutama pada bagian otak depan (frontal cortex).Leigh Gibson dari Roehampton University yang meneliti kebutuhan nutrisi otak mengatakan, asupan glukosa penting karena otak depan merupakan motor semua perintah dan aktivitas organ. Bagian ini juga sering disebut sebagai CEO-nya otak.“Jika kadar glukosa Anda turun di bagian otak ini, itu sama seperti Anda yang tidak bernapas,” kata Gibson seperti dikutip dari laman Live Science.
Tidak heran kenapa di banyak Negara berkembang termasuk Indonesia mayoritas penduduknya temperamental. Otak mereka kurang asupan gizi sehingga proses untuk berfikir sedikit terganggu bahkan mungkin banyak terganggu.
Saran saya untuk pemerintah Indonesia jika tidak ingin lagi terjadi kekacauan maka cukupilah kebutuhan pangan rakyatnya…heheheheh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar