Bukan lagi berita
yang hangat lagi jika pemenuhan akan pangan di Indonesia belum terpenuhi. Walaupun
pemerintah mengklaim bahwa di Indonesia sudah tidak ada lagi kelaparan,
nyatanya tidak hanya didaerah terpencil (NTT, NTB) bahkan di kota kota besar seperti
(Jakarta dan Surabaya) pemenuhan akan pangan ini menjadi masalah yang tak
kunjung terselesaikan. Tak jarang seseorang rela berdesak desakan bahkan hingga
berkelahi hanya untuk mendapatkan makanan. Sungguh fenomena yang mencengangkan
di bumi penghasil beras ini.
Kondisi masyarakat Indonesia yang cenderung temperamental
sisebabkan karena rakyat kekurangan asupan gizi (bahkan kekurangan makan)
sehingga mereka kurang maksimal dalam berfikir. Kita tahu bahwa otak
membutuhkan makanan berenergi. Organ dengan berat sekitar dua persen dari total
bobot tubuh ini mengonsumsi setidaknya 20 persen kebutuhan kalori tubuh.
Makanan mengandung
glukosa tinggi seperti karbohidrat cukup memberi energi pada otak. Glukosa
dibutuhkan terutama pada bagian otak depan (frontal cortex).Leigh Gibson dari
Roehampton University yang meneliti kebutuhan nutrisi otak mengatakan, asupan
glukosa penting karena otak depan merupakan motor semua perintah dan aktivitas
organ. Bagian ini juga sering disebut sebagai CEO-nya otak.“Jika kadar glukosa Anda turun di bagian otak
ini, itu sama seperti Anda yang tidak bernapas,” kata Gibson seperti
dikutip dari laman Live Science.
Tidak heran kenapa di banyak Negara berkembang
termasuk Indonesia mayoritas penduduknya temperamental. Otak mereka kurang
asupan gizi sehingga proses untuk berfikir sedikit terganggu bahkan mungkin
banyak terganggu.
Saran saya untuk pemerintah Indonesia jika tidak
ingin lagi terjadi kekacauan maka cukupilah kebutuhan pangan rakyatnya…heheheheh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar