Senin, 12 November 2012

steriotipe melayu yang pemalas

Steriotipe bahwa suku melayu adalah pemalas ternyata sudah ada sejak zaman penjajahan belanda. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad lalu, pemerintah Hindia-Belanda harus membawa buruh-buruh perkebunan dari negeri Tiongkok dan Pulau Jawa, dikarenakan Belanda enggan mempekerjakan orang Melayu yang dianggapnya malas.
setelah lebih dari 65 tahun Indonesia merdeka, stereotipe seperti itu rasanya belum beranjak dari diri mereka. Di kampung-kampung mereka sendiri, mereka menjadi pihak yang kalah dan tersingkir. jika Anda berkunjung ke Pekanbaru, Medan, atau jambi. Di tiga kota besar kampung halaman orang Melayu ini, mereka tidaklah banyak berperan. Malah di kota-kota ini, jumlah mereka sangatlah minim. Di Pekanbaru jumlah orang Melayu hanya seperempat dari keseluruhan penduduk kota. Bukan hanya pada ekonomi, budaya dan jumlah suku melayu semakin hari semakin tersingkir. Jika anda berada di pekanbaru mungkin anda kaget, bukan bahasa melayu yang eksis di sana akan tetapi bahasa minang merajai kota itu.
Dari sudut pandang sosiologi steriotipe ini adalah salah satu faktor mengapa suku melayu menjadi suku malas. sebuah teori dari Charles Horton Coley ialah satu konsep perkembangan diri seseorang melalui interaksi dengan orang lain. atau lebih singkatnya coley menjelaskan sifat atau kepribadian seseorang dipengaruhi oleh pandangan orang atau masyarakat terhadap dirinya (the looking glass self). sejalan dengan teori tersebut maka steriotipe pemalas pada suku melayu secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi sikologis mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar